Title: Hell
Year : 2011
Genre: Horror/Thriller/Sci-Fi
Genre: Horror/Thriller/Sci-Fi
Duration: 1 hr 29 mins
Directed by: Tim Fehlbaum
Written by: Tim Fehlbaum
Starring: Hannah Herzsprung, Stipe Erceg, Lisa Vicari
Directed by: Tim Fehlbaum
Written by: Tim Fehlbaum
Starring: Hannah Herzsprung, Stipe Erceg, Lisa Vicari
Thrill Rate : *** (3/5)
Hell (2011) : Perspektif
Kiamat Secara Minimalis
“What ?? Roland Emmerich
made a horror movie ?”
Awalnya saya nyaris nggak
percaya jika produser eksekutif Hell ini adalah Roland Emmerich. Padahal,
seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, Roland Emmerich jarang sekali
membuat film yang “ecek-ecek” karena filmnya cenderung jadi blockbuster, bombastis dan merupakan
suatu mega proyek di industri perfilman (terutama Hollywood), meski terkadang
cerita yang dibawakan di film-filmnya nggak terlalu istimewa. Simak saja hasil
karyanya seperti Independence Day (1996) atau The Day After Tomorrow (2004),
bahkan film yang sempat bikin heboh dan penasaran rakyat Indonesia macam 2012
kurang lebih 3 tahun lalu. Roland nampaknya memang sangat terobsesi pada segala
hal yang berbau “kiamat” dan “kehancuran dunia” dan apa yang disajikan Roland
dalam film-filmnya pastilah sangat “besar”, baik dari segi proses produksi
filmnya maupun dari segi budget. Ini yang sebenarnya membuat saya heran,
mengapa Roland tertarik untuk menjadi produser eksekutif dari film Hell yang boleh
dibilang menampilkan unsur “kiamat” atau “kehancuran dunia” secara minimalis.
Bahkan sutradara dan penulis ceritanya juga belum terlalu dikenal di kancah
perfilman (Tim Fehlbaum sebelumnya lebih banyak berkutat dengan short movie alias film pendek, menurut
info yang didapat dari IMDb). Tapi, terlepas dari itu semua, Tim Fehlbaum boleh
dibilang beruntung karena Roland mau melirik bahkan mendanai proyek yang sedang
dikerjakannya hingga Hell berhasil diproduksi. Yah, boleh dibilang from zero to hero, IMHO. Dengan masih
tetap mengedepankan unsur post-apocalyptic,
film asal Jerman ini tampil agak berbeda dengan tak terlalu mengeksploitasi
kehancuran dunia secara berlebihan.
Tahun 2016 adalah setting
waktu untuk film ini, dimana saat itu matahari sudah tak menjadi sahabat manusia
lagi karena gelombang panasnya yang makin merusak hampir seluruh kehidupan di
bumi. Dalam usaha untuk bertahan hidup, Marie (Hannah Herzsprung), Leonie(Lisa
Vicari), dan Philip (Lars Eidinger) melakukan perjalanan dengan mobil ke daerah
pegunungan karena logikanya sumber mata air pastilah berada di daerah tersebut
(FYI : kalau nggak percaya,lihat saja pada kemasan botol air mineral, pasti
disebutkan disitu sumber mata airnya dari gunung mana). Saat tengah menempuh
perjalanan, mereka bertemu dengan Tom (Stipe Erceg), seorang penjaga pompa
bensin yang sempat hampir dibunuh Philip karena akan mencuri ransum makanan
mereka. Akhirnya Tom bergabung dengan rombongan Philip untuk mencari keberadaan
mata air tersebut. Namun, perjalanan rombongan yang penuh harapan ini harus
terganggu oleh hal lain yang lebih mengancam nyawa mereka dari sekedar panasnya
gelombang sinar matahari.
Hell sebenarnya boleh dibilang
menyampaikan suatu pesan moral bagi yang menontonnya, terlepas dari segala
unsur kehancuran dunia yang memang tak digambarkan terlalu eksploitatif disini.
Tim ingin menegaskan di film ini bahwa manusia adalah tetap manusia yang
digambarkan memiliki akal dan pikiran namun dalam kondisi terdesak alias
kepepet bisa bertindak seperti binatang dan melupakan unsur kemanusiaan. Segala
cara akan dilakukan agar dirinya tetap hidup walaupun harus mengorbankan nyawa
sesamanya. Pesan moral semacam ini memang sudah kelewat sering dimunculkan pada
berbagai post-apocalyptic movie,
hanya saja terkadang cara penyampaian melalui bahasa visualnya yang berbeda.
Ada yang cenderung menampilkan disturbing
scene seperti The Divide-nya Xavier Gens atau dengan cara guyonan seperti 2012-nya Roland Emmerich. Dalam hal
ini, Tim menyampaikan pesan tersebut melalui gambaran motivasi survival yang dibawa oleh masing-masing
karakter yang terlibat disini.
Hingga kurang lebih 30 menit
pertama, tensi film berjalan amat biasa tapi lambat laun meningkat lumayan
cepat. Hanya saja saking cepatnya hingga seperti ada kesan terburu-buru dalam
eksekusinya. Jalan ceritanya juga mengalir apa adanya dan nggak cenderung
memaksa penonton untuk berpikir terlalu berat apalagi sampai harus
menebak-nebak nasib sang protagonis selanjutnya. Satu hal yang cukup
disayangkan di film ini adalah Tim tak terlalu banyak menampilkan adegan-adegan
yang semestinya bisa jadi cukup disturbing
bahkan eksploitatif pada moment-moment tertentu, sehingga “greget” film ini
sendiri jadi agak kurang, meski jalan ceritanya lumayan menarik. Aksi para
pelakon film ini juga solid dan sangat menunjang terhadap jalannya cerita. Ending yang sengaja dibikin menggantung,
memang sangat khas dimunculkan pada berbagai film post-apocalyptic, begitu pula di film ini.
Hell dalam bahasa Jerman dapat
diartikan sebagai “terang” (bright). Memang hal inilah yang cenderung
dieksploitasi penuh oleh Markus Forderer sebagai sinematografer film ini.
Cahaya matahari yang begitu terik dan cenderung membakar kulit dapat
divisualisasikan dengan nyaris sempurna oleh Markus, hingga seakan bisa
dirasakan sensasinya oleh penonton. Angle
kamera yang digunakan untuk mengambil gambar sinar matahari yang terik
terkadang menimbulkan efek yang menyilaukan mata, tetapi juga kelihatan jadi
sangat artistik untuk dilihat. Sisi keindahan sinematografi inilah yang
akhirnya menjadikan Hell mampu menyabet Best Cinematography di Stiges. Tampilan
kondisi post-apocalyptic-nya juga
biasa saja, namun masih menampakkan kesan destruktif. Bicara soal musik, Tim
tak terlalu banyak menggunakan background
music di film ini. Tapi meski demikian, tetap saja sensasi ketegangan masih
bisa didapat tanpa musik yang bikin kaget penonton.
Hell adalah salah satu post-apocalyptic movie yang cukup unik
di mata saya. Perspektif tentang kiamat yang ditampilkan oleh Tim disini memang
jauh berbeda dengan apa yang selalu ditampilkan oleh Roland Emmerich dalam
film-filmnya. Terkesan minimalis dalam menampilkan carut marutnya bumi pasca
kiamat, namun ada hal lain yang mampu diangkat sebagai konflik bagi para survivor. Meski konflik yang dikedepankan
masih berkutat masalah pemenuhan kebutuhan pokok manusia berupa air dan
makanan, tetapi Tim mengemasnya dalam nuansa yang artistik dan cukup
menegangkan hingga akhir film. Sedikit kurang eksploitatif dalam menampilkan
adegan-adegan yang semestinya disturbing,
hingga film ini jadi kelihatan kurang “greget”-nya, tapi nggak terlalu hambar
juga karena jalan ceritanya yang menarik. Bagi yang hobi nonton film-film
bertemakan post-apocalyptic, Hell
dapat dijadikan alternatif tontonan tentang kehidupan pasca kiamat dengan
perspektif yang agak berbeda. Sebagai tambahan, Hell juga boleh dikategorikan
sebagai film “panas” karena nuansa filmnya yang banyak menyoroti suasana siang
hari yang terik dan hampir tak mengenal malam, bukan karena banyak adegan
seks-nya :)







penasaran nih..:)
BalasHapussilahkan ditonton saja..:)
Hapus