Kamis, 13 Desember 2012

Hell (2011) : Perspektif Kiamat Secara Minimalis



Title: Hell
Year : 2011  
Genre: Horror/Thriller/Sci-Fi
Duration: 1 hr 29 mins  
Directed by: Tim Fehlbaum  
Written by: Tim Fehlbaum
Starring: Hannah Herzsprung, Stipe Erceg, Lisa Vicari   
Thrill Rate : *** (3/5)



Hell (2011) : Perspektif Kiamat Secara Minimalis




“What ?? Roland Emmerich made a horror movie ?


Awalnya saya nyaris nggak percaya jika produser eksekutif Hell ini adalah Roland Emmerich. Padahal, seperti yang mungkin sudah kita ketahui bersama, Roland Emmerich jarang sekali membuat film yang “ecek-ecek” karena filmnya cenderung jadi blockbuster, bombastis dan merupakan suatu mega proyek di industri perfilman (terutama Hollywood), meski terkadang cerita yang dibawakan di film-filmnya nggak terlalu istimewa. Simak saja hasil karyanya seperti Independence Day (1996) atau The Day After Tomorrow (2004), bahkan film yang sempat bikin heboh dan penasaran rakyat Indonesia macam 2012 kurang lebih 3 tahun lalu. Roland nampaknya memang sangat terobsesi pada segala hal yang berbau “kiamat” dan “kehancuran dunia” dan apa yang disajikan Roland dalam film-filmnya pastilah sangat “besar”, baik dari segi proses produksi filmnya maupun dari segi budget. Ini yang sebenarnya membuat saya heran, mengapa Roland tertarik untuk menjadi produser eksekutif dari film Hell yang boleh dibilang menampilkan unsur “kiamat” atau “kehancuran dunia” secara minimalis. Bahkan sutradara dan penulis ceritanya juga belum terlalu dikenal di kancah perfilman (Tim Fehlbaum sebelumnya lebih banyak berkutat dengan short movie alias film pendek, menurut info yang didapat dari IMDb). Tapi, terlepas dari itu semua, Tim Fehlbaum boleh dibilang beruntung karena Roland mau melirik bahkan mendanai proyek yang sedang dikerjakannya hingga Hell berhasil diproduksi. Yah, boleh dibilang from zero to hero, IMHO. Dengan masih tetap mengedepankan unsur post-apocalyptic, film asal Jerman ini tampil agak berbeda dengan tak terlalu mengeksploitasi kehancuran dunia secara berlebihan.




Tahun 2016 adalah setting waktu untuk film ini, dimana saat itu matahari sudah tak menjadi sahabat manusia lagi karena gelombang panasnya yang makin merusak hampir seluruh kehidupan di bumi. Dalam usaha untuk bertahan hidup, Marie (Hannah Herzsprung), Leonie(Lisa Vicari), dan Philip (Lars Eidinger) melakukan perjalanan dengan mobil ke daerah pegunungan karena logikanya sumber mata air pastilah berada di daerah tersebut (FYI : kalau nggak percaya,lihat saja pada kemasan botol air mineral, pasti disebutkan disitu sumber mata airnya dari gunung mana). Saat tengah menempuh perjalanan, mereka bertemu dengan Tom (Stipe Erceg), seorang penjaga pompa bensin yang sempat hampir dibunuh Philip karena akan mencuri ransum makanan mereka. Akhirnya Tom bergabung dengan rombongan Philip untuk mencari keberadaan mata air tersebut. Namun, perjalanan rombongan yang penuh harapan ini harus terganggu oleh hal lain yang lebih mengancam nyawa mereka dari sekedar panasnya gelombang sinar matahari.




Hell sebenarnya boleh dibilang menyampaikan suatu pesan moral bagi yang menontonnya, terlepas dari segala unsur kehancuran dunia yang memang tak digambarkan terlalu eksploitatif disini. Tim ingin menegaskan di film ini bahwa manusia adalah tetap manusia yang digambarkan memiliki akal dan pikiran namun dalam kondisi terdesak alias kepepet bisa bertindak seperti binatang dan melupakan unsur kemanusiaan. Segala cara akan dilakukan agar dirinya tetap hidup walaupun harus mengorbankan nyawa sesamanya. Pesan moral semacam ini memang sudah kelewat sering dimunculkan pada berbagai post-apocalyptic movie, hanya saja terkadang cara penyampaian melalui bahasa visualnya yang berbeda. Ada yang cenderung menampilkan disturbing scene seperti The Divide-nya Xavier Gens atau dengan cara guyonan  seperti 2012-nya Roland Emmerich. Dalam hal ini, Tim menyampaikan pesan tersebut melalui gambaran motivasi survival yang dibawa oleh masing-masing karakter yang terlibat disini.




Hingga kurang lebih 30 menit pertama, tensi film berjalan amat biasa tapi lambat laun meningkat lumayan cepat. Hanya saja saking cepatnya hingga seperti ada kesan terburu-buru dalam eksekusinya. Jalan ceritanya juga mengalir apa adanya dan nggak cenderung memaksa penonton untuk berpikir terlalu berat apalagi sampai harus menebak-nebak nasib sang protagonis selanjutnya. Satu hal yang cukup disayangkan di film ini adalah Tim tak terlalu banyak menampilkan adegan-adegan yang semestinya bisa jadi cukup disturbing bahkan eksploitatif pada moment-moment tertentu, sehingga “greget” film ini sendiri jadi agak kurang, meski jalan ceritanya lumayan menarik. Aksi para pelakon film ini juga solid dan sangat menunjang terhadap jalannya cerita. Ending yang sengaja dibikin menggantung, memang sangat khas dimunculkan pada berbagai film post-apocalyptic, begitu pula di film ini.   



Hell dalam bahasa Jerman dapat diartikan sebagai “terang” (bright). Memang hal inilah yang cenderung dieksploitasi penuh oleh Markus Forderer sebagai sinematografer film ini. Cahaya matahari yang begitu terik dan cenderung membakar kulit dapat divisualisasikan dengan nyaris sempurna oleh Markus, hingga seakan bisa dirasakan sensasinya oleh penonton. Angle kamera yang digunakan untuk mengambil gambar sinar matahari yang terik terkadang menimbulkan efek yang menyilaukan mata, tetapi juga kelihatan jadi sangat artistik untuk dilihat. Sisi keindahan sinematografi inilah yang akhirnya menjadikan Hell mampu menyabet Best Cinematography di Stiges. Tampilan kondisi post-apocalyptic-nya juga biasa saja, namun masih menampakkan kesan destruktif. Bicara soal musik, Tim tak terlalu banyak menggunakan background music di film ini. Tapi meski demikian, tetap saja sensasi ketegangan masih bisa didapat tanpa musik yang bikin kaget penonton.




Hell adalah salah satu post-apocalyptic movie yang cukup unik di mata saya. Perspektif tentang kiamat yang ditampilkan oleh Tim disini memang jauh berbeda dengan apa yang selalu ditampilkan oleh Roland Emmerich dalam film-filmnya. Terkesan minimalis dalam menampilkan carut marutnya bumi pasca kiamat, namun ada hal lain yang mampu diangkat sebagai konflik bagi para survivor. Meski konflik yang dikedepankan masih berkutat masalah pemenuhan kebutuhan pokok manusia berupa air dan makanan, tetapi Tim mengemasnya dalam nuansa yang artistik dan cukup menegangkan hingga akhir film. Sedikit kurang eksploitatif dalam menampilkan adegan-adegan yang semestinya disturbing, hingga film ini jadi kelihatan kurang “greget”-nya, tapi nggak terlalu hambar juga karena jalan ceritanya yang menarik. Bagi yang hobi nonton film-film bertemakan post-apocalyptic, Hell dapat dijadikan alternatif tontonan tentang kehidupan pasca kiamat dengan perspektif yang agak berbeda. Sebagai tambahan, Hell juga boleh dikategorikan sebagai film “panas” karena nuansa filmnya yang banyak menyoroti suasana siang hari yang terik dan hampir tak mengenal malam, bukan karena banyak adegan seks-nya :)


2 komentar: